Community Social Capacity Managing Community Forest In Banggai Regency, Central Sulawesi
DOI:
https://doi.org/10.58330/prevenire.v1i2.31Keywords:
Community forestry, community empowerment, social forestryAbstract
This study aims to describe and evaluate the extent to which the social capacity of farming communities has changed in managing Community Forests (HKm) in Nambo Lempek Village, Banggai Regency, Central Sulawesi. The approach used is a qualitative descriptive method. Data collection techniques using the method of observation, interviews and documentation. The triangulation technique of checking the data's validity is used. The data analysis method used is data reduction, data presentation and conclusion. The results showed no real empowerment through efforts to increase community capacity in the process of empowering communities in the forest carried out by the state communities around the forest through the Community Forest program in Banggai Regency. There is a fragility in the social capacity of forest farming communities in managing HKm, marked by a decrease in community collective self-confidence, low intensity of collaboration, weak management institutions, and the inability to manage HKm independently.
Downloads
References
Adian, D. G. (2013). Rasionalitas kerjasama: sebuah teori rekonsiliasi sosial. Penerbit Koekoesan.
Agusta, I. (2014). Indeks Kemandirian Desa: Metode, Hasil, dan Alokasi Program Pembangunan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Awang, S. A. (2003). Politik kehutanan masyarakat. Yogyakarta (ID): Center for Critical Social Studies & Kreasi Wacana Yogyakarta, 1315–1755.
Awang, S. A. (2004). Dekonstruksi sosial forestri: reposisi masyarakat dan keadilan lingkungan. Bigraf Pub. & Program Pustaka.
Awang, S. A. (2006). Sosiologi pengetahuan deforestasi: Konstruksi sosial dan perlawanan. Debut Press.
Colbry, S., Hurwitz, M., & Adair, R. (2014). Collaboration Theory. Journal of Leadership Education, 13(4).
Dewi, I. N. (2018). Kemiskinan masyarakat sekitar hutan dan program perhutanan sosial. Buletin Eboni, 15(2), 65–77.
Golar, G. (2019). Adaptasi Masyarakat Tepian Hutan dalam Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Samudra Biru.
Grootaert, C., Narayan, D., Jones, V. N., & Woolcock, M. (2003). Integrated questionnaire for the measurement of social capital. The World Bank Social Capital Thematic Group.
Habibatul, U. (2021). Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Hutan Kemasyarakatan dalam Upaya Pelestarian Lingkungan di Desa Karang Jaya Kecamatan Merbau Mataram Kabupaten Lampung Selatan. UIN Raden Intan Lampung.
Haryani, R., & Rijanta, R. (2019). Ketergantungan Masyarakat Terhadap Hutan Lindung dalam Program Hutan Kemasyarakatan. Jurnal Litbang Sukowati: Media Penelitian Dan Pengembangan, 2(2), 15.
Hidayat, K. (2012). Pengelolaan Program Hutan Kemasyarakatan Berbasis Kearifan Lokal: Studi Kasus di Kawasan Hutan Lindung Sesaot Lombok Barat. Jurnal WACANA, 13(1), 39954.
Kusumastuti, A. A., & Taufik, A. (2020). Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Budidaya dalam Mengembangkan Kampung Lele di Desa Tegalrejo Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali. Journal of Politic and Government Studies, 9(02), 71–80.
Lasker, R. D., & Weiss, E. S. (2003). Broadening participation in community problem solving: a multidisciplinary model to support collaborative practice and research. Journal of Urban Health, 80(1), 14–47.
Latang, L. (2012). Pelaksanaan Program Tanaman Padi oleh Kelompok Tani Bulu Cempa di Desa Nusa Kecamatan Kahu Kabupaten Bone. JAPPA: Jurnal Andragogi Pedagogi Dan Pemberdayaan Masyarakat, 1(1), 66–72.
Mansbridge, J. (2014). The role of the state in governing the commons. Environmental Science & Policy, 36, 8–10.
Melyana, M., Yoza, D., & Arlita, T. (2015). Interaksi sosial ekonomi masyarakat terhadap kawasan taman nasional bukit tiga puluh (studi kasus desa Rantau Langsat kecamatan Batang Gansal kabupaten Indragiri Hulu provinsi Riau). Riau University.
Mukhtar, M., & Jannah, W. (2018). Program Hutan Kemasyarakatan Berbasis Kearifan Lokal; Studi Kasus Di Kawasan Hutan Lindung Sesaot Lombok Barat. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan), 2(1).
Mulyadin, R. M., Surati, S., & Ariawan, K. (2016). Kajian Hutan Kemasyarakatan sebagai Sumber Pendapatan: Kasus di Kab. Gunung Kidul. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan, 13(1), 13–23.
Murti, H. A. (2018). Social Forestry for Community Justice Access and Poverty Reduction. Jurnal Analis Kebijakan |, 2(2), 1–14.
Nurasa, H. (2016). Analisis Program Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Masyarakat Desa: Suatu Studi Pada Program Pengembangan Masyarakat Miskin di Perdesaan. CosmoGov: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 2(1), 23–38.
Nuryanti, S., & Swastika, D. K. S. (2011). Peran kelompok tani dalam penerapan teknologi pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 29(2), 115–128.
Ostrom, E. (1990). Governing the commons: The evolution of institutions for collective action. Cambridge university press.
Reski, N. A., Yusran, Y., & Makkarennu, M. (2017). Rancangan Pemberdayaan Masyarakat pada Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Desa Pacekke, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Jurnal Hutan Dan Masyarakat, 37–43.
Rizal, A. (2012). Sosiologi Kehutanan dalam Pengelolaan Hutan. Buletin Eboni, 9(1), 1–15.
Safe’i, R., Febryano, I. G., & Aminah, L. N. (2018). Pengaruh keberadaan Gapoktan terhadap pendapatan petani dan perubahan tutupan lahan di Hutan Kemasyarakatan. Sosiohumaniora, 20(2), 109–114.
Simangunsong, H., Perwira, Y., & Apriani, W. (2019). PKM: Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dalam Mewujudkan Desa Mandiri di Desa Banjar Jaya: Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dalam Mewujudkan Desa Mandiri di Desa Banjar Jaya. TRIDARMA: Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM), 2(1, Mei), 8–11.
Soetomo, 2011. Pemberdayan Masyarakat. Mungkinkah Muncul Antitesisnya?. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 PREVENIRE: Journal of Multidisciplinary Science

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


